Semarang – UPTD Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang menggelar kegiatan Advokasi Lintas Sektoral Triwulan I Tahun 2026 pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di Aula Puskesmas Kedungmundu. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Camat Tembalang, Kapolsek Tembalang, Ketua TP PKK Kecamatan Tembalang, para lurah dan kasi kesejahteraan sosial se-Kecamatan Tembalang, Tim TPCB, serta Ketua RW terpilih wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi dan komitmen lintas sektor dalam menangani berbagai permasalahan kesehatan masyarakat, khususnya penyakit berbasis lingkungan dan kesehatan ibu dan anak.
Paparan Kondisi Wilayah dan Tantangan Kesehatan
Dalam sambutannya, Camat Tembalang menyampaikan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca ekstrem serta potensi bencana, seperti kejadian tanah bergerak di Jangli dan wilayah rawan longsor di Sendangguwo. Ia juga menyoroti meningkatnya penyakit berbasis lingkungan, seperti leptospirosis (6 kasus dengan 1 kematian pada tahun 2025), diare, stunting, serta tuberkulosis (TB) yang cukup tinggi di Sendangmulyo.
Kapolsek Tembalang menekankan pentingnya dukungan anggaran pemerintah untuk pengadaan tempat sampah tertutup guna menekan populasi tikus sebagai sumber penularan leptospirosis.
Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Kedungmundu, dr. Gita Nur Fitriandari, memaparkan data kesehatan wilayah. Kasus stunting tertinggi tercatat di Sendangguwo, Tandang, dan Sendangmulyo. Pada bulan Juli 2026 akan dilaksanakan kegiatan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) sehingga diperlukan dukungan RW, lurah, dan kader untuk memastikan balita hadir di Posyandu.
Kasus TBC tertinggi berada di Sendangmulyo, dan pada awal 2026 meningkat di Tandang RW 14. Apresiasi diberikan kepada RW 2 Sambiroto dan RW 14 Tandang yang telah melakukan pendekatan door to door untuk memastikan pasien TB menjalani pengobatan. Selain itu, kasus DBD menunjukkan penurunan signifikan sebesar 40 persen dari tahun 2024 ke 2025 (504 kasus menjadi 296 kasus).
Untuk tahun 2026, telah ditemukan satu kasus leptospirosis di Tandang RW 5. Puskesmas mengimbau warga yang mengalami nyeri betis agar segera melakukan pemeriksaan RDT leptospirosis.
Diskusi Isu Sampah dan Lingkungan
Sesi diskusi banyak menyoroti persoalan pengelolaan sampah sebagai faktor risiko penyakit. Beberapa RW menyampaikan kendala terkait tempat pembuangan akhir (TPA), kontainer sampah, serta dampak banjir. Camat Tembalang menjelaskan rencana penyediaan kontainer dan pembangunan TPA di wilayah Rowosari.
Usulan inovatif juga muncul, seperti penggunaan insinerator untuk pengolahan sampah serta kolaborasi dengan Politeknik Bina Trada terkait alat pemusnah sampah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dalam paparannya menegaskan bahwa kasus diare dan ISPA meningkat akibat faktor cuaca, serta mengingatkan pentingnya penguatan skrining TB dan persiapan SSGI pada Juli mendatang.
Rencana Tindak Lanjut
Sebagai hasil advokasi, disepakati beberapa langkah tindak lanjut, antara lain:
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk keseriusan lintas sektor dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Advokasi Lintas Sektoral TW I Tahun 2026 menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan masyarakat di wilayah Kecamatan Tembalang tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah kecamatan, kelurahan, aparat keamanan, kader, serta masyarakat.
Fokus utama tahun 2026 diarahkan pada pengendalian penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, diare, ISPA, TBC, serta penanganan stunting melalui penguatan Posyandu dan SSGI. Dengan komitmen bersama dan dukungan lintas sektor, diharapkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.